Sunday, April 28, 2013

Mengungkap Kebenaran Ajaran Syekh Siti Jenar

 
Kalau kita berbicara syekh siti jenar maka maka pikiran kita pasti akan ingat pada salah satu ajarannya yaitu Manunggaling kawulo gusti.Sebagai salah satu orang yang pernah belajar ilmu kejawen Mas Say Laros tidak akan pernah lupa dengan tokoh sentral yang satu ini karena memang dalam setiap wejangan kejawen ajaran-ajaran kanjeng syekh siti jenar selalu tidak pernah dilupakan.

Sebenarnya siapa sich tokoh syekh siti jenar itu?Menurut sejarah syekh siti jenar yang lahir sekitar tahun 829 H/1426 Masehi ini memiliki nama kecil yaitu San Ali,beliau adalah anak dari Syekh Datuk Shaleh seorang ulama malaka yang pindah ke cirebon karena adanya ancaman politik dikesultanan malaka pada saat itu sekitar tahun 1424 M yaitu tepatnya pada masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah.

Dalam literatur sejarah Syekh siti jenar pernah merantau mencari ilmu ke Baghdad, Irak (kira-kira abad 15 – 16 M – itu masa hidupnya).Pada saat di Baghdad dia diajar oleh seorang kakek yang menurut riwayat ajarannya lebih mementingkan dzikir dari pada sholat. Hal itu adalah faktor yang menyebabkannya pemikirannya dianggap sedikit melenceng dari ajaran-ajaran islam pada saat itu.

Pada suatu hari kanjeng syekh berada dikamar pribadinya,Nach ada salah seorang murid utusan para wali datang menemui syekh,Murid tersebut mengetuk pintu dan berkata ‘’Apakah syekh siti jenar ada?’’Syekh siti jenar menjawab enteng ‘’Tidak ada,yang ada hanya gusti Allah’’.Murid utusan itu semakin bingung lalu dia pergi menemui para wali,dan para wali menyuruhnya kembali lagi ke kamar Syekh Siti Jenar dan mengganti nama syekh dengan gusti, lalu dia pun pergi dan kembali memanggil Syekh Siti Jenar, dia berkata “Apakah gusti ada?” Syekh menjawad “ tidak ada gusti yang ada hanya Syekh Siti Jenar” jawabnya dengan nada rendah. Murid menjadi lenbih bingung dan dia mengadukan apa yang dia dengar kepada para wali.

Setelah itu Syekh Maulana Maghribi menuduh Syekh Siti Jenar bahwa dia mengaku sebagai Allah. Atas tuduhan itu, karena itu Sunan Kalijogo menanyakan apakah benar tuduhan tersebut, beliau mengakuinya benar adanya, maka dewan wali dalam sidangnya sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi syekh siti jenar, dan Sekh Siti Jenar menerima putusan tersebut agar segera dilaksanakan, dan yang harus melaksanakan keputusan tersebut yaitu Sunan Kudus dengan keris Ki Kantanaga yang diberikan oleh Sunan Gunung Jati.

Nach,Sebelum eksekusi berlangsung, terjadilah kejadian yang sangat mencengangkan masyarakat karena memang disaksikan secara terbuka dihalaman masjid Agung Cirebon, dan dialog tersebut diantaranya sebagai berikut:

Menempelnya keris Ki Kantanaga ke jasad Syekh Siti Jenar, terdengar suara yang sangat keras seperti beradunya kedua besi yang sangat besar, lalu para Wali saling tersenyum, sambil berkata, “Masa ada ALLAH seperti besi ?”

Syekh Siti Jenar menjawab, “Coba, tusuklah sekali lagi,”
Ketika tusukan kedua, Syekh Siti Jenar menghilang tidak ada ujud jasadnya.
Para Wali berkata kembali, “Masa matinya ALLAH seperti syaitan?”

Secepat kilat Syekh Siti Jenar menampakan diri lagi, sambil berkata, “ Coba tusuk sekali lagi?”Ketika tusukan ketiga, Syekh Siti Jenar membujur tergolek di lantai masjid, dari lukanya keluar darah merah, dan para Wali berkata kembali,” Masa matinya ALLAH seperti kambing?Syekh Siti Jenar bangun hidup kembali tanpa luka dan berkata, “Coba tusuk sekali lagi?”

Kemudian pada tusukan keempat , Syekh Siti Jenar rebah, mati dan dari lukanya mengalir darah putih, seketika itu para wali berkata kembali,” Masa matinya ALLAH seperti cacing!”, karena berkali-kali tusukan selalu mati, hidup, mati, hidup, maka, Syekh Siti Jenar berkata, “ Lalu harus bagaimana mati saya menurut keinginan anda?”dan dijawab oleh seluruh Wali,” Biasa!”, seperti orang tidur badannya lemas, begitulah mati bagi seorang Insanul Kamil”

Sesudah itu ditusuklah jasadnya dan wafatlah Syekh Siti Jenar seperti umumnya manusia, jasadnya mengecil sebesar kuncup bunga melati dan baunya semerbak mewangi bau harumnya melati.

Nach Dari cerita diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa cerita ditekankan pada Syekh Siti Jenar yang beranggapan bahwa dirinya adalah Allah, dalam hal ini Syekh Siti Jenar terlihat Seperti Al Hallaj dari irak, yang beranggapan bahwa dirinya adalah Allah.

Dalam “Manunggaling Kawula Gusti ” ajaran Syekh Siti Jenar, dituliskan syair yang berbunyi:

Aku ini adalah diriMu
Jiwa ini adalah jiwaMu
Rindu ini adalah rinduMu
Darah ini adalah darahMu

Bagian manakah dari dirimu yang bukan dariNya?
Tapi jangan kotori Nur Ilahi dengan bejatnya nafsumu
Karna itu sucikanlah,
dan tegapkan langkah,
untuk menuju status,
Manunggaling Kawula Gusti

Syair itu agak mirip dengan akhiran Surah Qaf ayat 16: “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”

Mungkin itu yang menyebabkan Syekh Siti Jenar beranggapan bahwa dirinya adalah Allah, secara harfiyah hal itu terlihat sesat, karena dia beranggapan sebagai Allah, tapi jika dikaji lebih dalam maksudnya adalah bahwa dalam dirinya ada bagian dari Allah, dalam hatinya, dalam inti hati kecilnya yaitu firmanNYA.

Dalam hati terdapat firman Allah, hal itu bisa dibuktikan dengan teori sains terbaru yang diutarakan Stephen Wolfram dalam bukunya “New Kind Of Science” yang walaupun tidak membahas tentang firman Allah, namun dalam buku itu dikatakan bahwa segala benda berasal dari kumpulan kata-kata, jadi mungkin maksud bahwa aku adalah Allah adalah dalam hatiku ada Allah.

Maksud dari kata-kata ‘dalam hatiku ada Allah’ ada dua, yaitu:
Dalam hatiku ada Allah, Seperti yang telah diterangkan sebelumnya bahwa dalam hati manusia ada firman Allah.
Dalam hatiku ada Allah, bahwa dia selalu mengingat Allah swt dengan dzikir.

Jika dilihat dari arti terakhir surah Qaf ayat 16 dikatakan bahwa “Aku lebih dekat dari urat lehermu”, maksudnya adalah Allah Maha Mengetahui.Ajaran Syekh Siti Jenar bernama Manunggaling Kawula Gusti, menurut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. maksud dari Manunggaling Kaula Gusti adalah fana fillah yang artinya adalah ketaatan yang sempurna terhadap Allah SWT, hal itu dikatakan menurut surah an nisa ayat 69: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Dalam hal ini kita bisa melihat bagaimana kedekatan antara Syekh Siti Jenar dengan Allah swt, begitu dekatnya hingga yang dilakukannya hanya dzikir. Dalam cerita dikatakan bahwa Syekh Siti Jenar tidak melakukan ibadah sholat melainkan hanyalah dzikir, sebenarnya shalat merupakan bagian dari dzikir,sehingga tidak perlu mengatakan sholat jika sudah mengatakan dzikir, karena dalam dzikir sudah termasuk sholat.

Jika dilihat dari penjelasan pertama, kita bisa menyimpulkan cara mengajar Syekh Siti Jenar adalah langsung kepada intinya tanpa memberi tahu bagaimana cara kesimpulan itu bisa didapat. Cara itu tidaklah salah bagi orang yang sudah berilmu, tapi kurang tepat bagi orang yang awam terhadap agama, hal ini dapat menimbulkan kesalahan presepsi bagi para pengikutnya, mungkin hal itu yang menyebabkan para wali menjadi gusar, karena mereka takut akan terjadinya kesesatan, hal itu yang menyebabkan para wali berusaha membunuh paham yang salah, yang ditimbulkan dari kurang tepatnya Syekh Siti Jenar mengajar.

Jika diibaratkan Syekh Siti Jenar Seperti orang yang mengajarkan pelajaran SMA kepada anak SD, sehingga menimbulkan kemelencengan inti dari apa yang diutarakan oleh Syekh Siti Jenar itu sendiri. Hal ini berbanding lurus dengan arti nama Syekh Siti Jenar itu sendiri, yaitu:



Syekh: menurut bahasa, kata “syekh” adalah setiap orang yang sudah berumur lebih dari 40 tahun, itu dinamakan syekh baik orang itu mukmin atau orang itu kafir.
Menurut istilah, kata “syekh” adalah setiap orang yang mempunyai ilmu hakekat, walaupun orang itu berusia sebelum 40 tahun.


Siti: singkatan yaitu “isinya hati”. Tempatnya di dalam hati, bukan di bibir atau lisan.


Jenar : kuning. Kuning itu warna penyakit. Atau juga kebahagiaan, seperti dalam Al-Qu’an surat Al-Baqoroh ayat 69: “Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami agar Dia menerangkan kepada Kami apa warnanya.” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

Jadi Siti Jenar artinya, penyakit dalam hati, yang bisa diibaratkan lagi suatu yang buruk di tempat yang baik. Jika dibalikan akan menjadi hal yang baik di tempat yang buruk. Jika ditambah syekh yang di ibaratkan menjadi ilmu maka, syekh siti jenar berarti suatu ilmu yang tidak pada tempatnya.

Dalam Kitab Jamius Shaghir Bab huruf Tha hal 194 ada sebuah hadits yang bunyinya : Bersabda Rasulullah SAW : “Tiap-tiap orang muslim yang meletakkan ilmu bukan pada ahlinya laksana mengalungkan permata berlian dan mutiara serta emas di lehernya celeng.” (‘an Anas rowahu Ibnu Majjah).

Dalam cerita dikatakan bahwa ketika Syekh Siti Jenar akan dibunuh terjadi keanehan-keanehan seperti, badan seperti besi, menghilang, mati seperti kambing, mengucur darah putih, dan terakhir mati dan jasadnya berubah menjadi kuncup bunga mawar yang wangi. Hal-hal tersebut tidaklah masuk akal, tapi jika kita lihat dari penjelasan sebelumnya yang dimaksud dibunuh para wali bukanlah syekh siti jenar melainkan paham yang ada dimasyarakat yang ditimbulkan karena kesalahan mengajar syekh siti jenar, karena syekh siti jenar adalah penyebar dari paham itu, maka dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan.

Dalam cerita dikatakan bahwa dia mengakui bahwa dirinya adalah Allah, sehingga dia rela untuk diadili, itu berarti dia sudah mengalah untuk diadili dalam artian meluruskan paham sesuai situasi dan kondisi.Ketika dihukum mati Syekh Siti Jenar ditusuk, namun tusukan itu tidak menembus badannya karena badannya berubah menjadi keras seperti besi, itu berarti ketika diadili dia menolak dengan “keras” dalam artian apa yang diutarakan wali untuk menjatuhkannya dengan mudah ditangkis.

Menghilang, maksudnya adalah ketika dia tidak menghindar dari terkaan para wali melainkan menjawab dengan cara yang tidak bisa diduga. Mati seperti kambing karena dia mengalah seperti dalam cerita dia rela ditusuk yang maksudnya dia mengalah, tapi dia mengalah dengan cara yang hina seperti kematian seekor kembing.

Hal itu membuat para wali menjadi kecewa seperti yang dikatakan dalam cerita bahwa para wali mengejeknya, lalu dia menantang kembali para Wali agar mereka mau beradu argumen lagi, seperti dalam cerita dia hidup lagi dan berkata “ Coba tusuk sekali lagi?”. Mati dengan darah putih, maksudnya dia mengalah dengan cara yang aneh, karena jika dilihat, darah menyimbolkan najis, dan putih menyimbolkan suci, dan najis yang suci adalah hal yang aneh, dan tidak ada. Terakhir dia mati dengan jasad yang berubah menjadi kuncup bunga yang wangi, maksudnya dia mengalah dengan terhormat, seperti kuncup bunga bunga yang wangi. Kuncup bunga yang wangi bisa diartikan sebagai suatu awal dari kebaikan atau kebenaran.

Lalu dari penjelasn diatas apa hubungan antara penjelasan tadi dangan tema(ruh sejati muslim)? Kita lihat bagaimana Syekh Siti Jenar begitu dekat dengan Allah.Menurut penulis Syekh Siti Jenar sudah mendapatkan ruh sejati seorang muslim, sehingga penulis menulis makalah ini bertujuan memberikan contoh manusia yang sudah mencapai ruh sejati itu yaitu fana fillaah atau menurut Syekh Siti Jenar adalah manunggaling kawula gusti atau ada yang menyebutkan manunggaling kawula kalawan gusti, karena penulis rasa sudah banyak yang menerangkan tentang pengertian ruh sejati muslim, oleh sebab itu kita harus melihat bagaimana Syekh Siti Jenar mengikuti Rosululloh SAW dan menirunya, agar mendapat tingkatan spiritual tertinggi sepertinya(Rosululloh SAW) meskipun kita tidak bisa menyamainya.

Sumber:
Dari Berbagai sumber
Basil Kaffi Ar-Rahman

No comments:

Post a Comment